Jumat, 19 September 2008

Perang Menuju RI 1

“JENDERAL” MEGA vs “JENDERAL” SBY

Suara genderang peperangan memperebutkan kursi RI 1 bertalu-talu menggema ke seantero jagad. Tak hanya bangsa Indonesia saja yang berhak memonopoli suara genderang itu, bangsa-bangsa di seluruh penjuru dunia, khususnya yang berkepentingan akan hasil akhir peperangan, juga merasa punya hak untuk mengamati serta mencermati bunyi tetabuhan genderang perang itu.

Kedua belah pihak yang akan bertempur tengah sibuk menyusun taktik dan strategi guna memenangkan peperangan. Persekutuan-persekutuan dibangun. Amunisi dan perbekalan dikumpulkan. Pasukan serbu dengan semangat menggelora di dada dan rela mati membela sang Jenderal disiagakan. Inteljen yang sangat terlatih disusupkan ke dalam kekuatan musuh guna mempengaruhi dan mengurangi loyalitas pasukan lawan. Dapur-dapur umum didirikan dan logistik pasukan pun dipersiapkan dengan seksama. Agitasi dan propaganda disebarkan ke seluruh penjuru Semua sibuk, semua berniat memenangkan peperangan.

Medan perangnya adalah Negara Indonesia. Puncak peperangannya adalah Pemilihan Presiden tahap ke II. Waktunya 20 September mendatang. Kubu-kubu yang berperang adalah Kubu Megawati-Hasyim melawan Kubu SBY-Kala. Yang diperebutkan adalah kursi kekuasaan di negeri ini. Pasukannya adalah massa pendukung masing-masing kubu yang notabene sama-sama rakyat Indonesia. Senjatanya adalah janji-janji perbaikan bangsa nan manis, sedang amunisi dan logistiknya adalah dana triliyunan rupiah hasil “sumbangan tak mengikat yang berasal dari pendukung dan simpatisan” masing-masing kubu. Pucuk pimpinannya adalah “Jenderal” Mega dan “Jenderal” Susilo Bambang Yudoyono alias SBY.

Kubu manapun yang memenangkan peperangan 20 September, jenderalnya akan menyandang gelar sebagai Presiden, Pemimpin dan Penguasa bangsa yang wilayahnya terhampar dari Sabang sampai Merauke, minus Timor Leste tentunya. Dia berhak menjadi seorang hakim yang akan menentukan hitam-putih bangsa ini, serta berhak menjadi seorang nahkoda yang akan mengarahkan ke arah mana bangsa ini dibawa. Pertanyaannya adalah, apakah jenderal tersebut sudah layak menjadi seorang pemimpin bangsa dan menjadi dambaan semua rakyat, atau minimal menjadi pemimpin bangsa dambaanku? Perlu dijabarkan beberapa hal untuk menjawab pertanyaan itu.

Tidak perlulah kiranya kita mengatas namakan rakyat untuk sekedar memberikan penilaian dan menyampaikan opini tentang Pemimpin bangsa dambaan kita. setiap anak bangsa secara individual mendambakan seoarang pemimpin bangsa dengan kriteria serta kualitas yang berbeda-beda, tergantung dengan kepentingan masing-masing.

Mencermati taktik dan strategi yang tengah diterapkan oleh masing-masing kubu untuk memenangkan perang dan mendudukkan Jenderalnya di kursi kekuasaan, menurut pendapatku taktik dan strategi yang diterapkan merupakan taktik dan strategi murahan tanpa bobot sama sekali. Selain itu juga memberikan gambaran yang nyata kepada kita betapa rendahnya kualitas masing-masing jenderalnya. Tidak ada satupun dari kedua belah kubu memiliki dan mampu menjabarkan dengan jelas konsep kenegaraan serta konsep-konsep perbaikan bangsa yang nyata-nyata dapat memberikan jaminan kepada kita bahwa mereka mampu mengentaskan bangsa ini dari keterpurukan dalam jurang krisis multidimensi yang telah terjadi lebih dari tujuh tahun.

Strategi dan taktik untuk memenangkan perang lebih mengedepankan cara-cara manipulatif dan provokatif. Mengobral janji-janji manis tentang perbaikan nasib bangsa tetap dianggap sebagai strategi ampuh untuk memperkuat loyalitas massa pendukung setianya dan mampu dipergunakan untuk mempengharuhi massa pendukung kubu lawan guna membelot dan memberikan dukungan pada jenderal kubu yang lain. Obral janji juga digunakan untuk merebut simpati kelompok masyarakat yang bukan merupakan bagian langsung dari masing-masing kubu. Padahal sikap dan janji-janji manis yang dimunculkan oleh masing-masing pihak tak ubahnya dengan “Musang berbulu Domba”

Persekutuan-persekutuan dengan pihak lain yang katanya memiliki Flat form yang sama juga diandalkan sebagai strategi ampuh untuk memenangkan peperangan. Pada kenyataanya persekutuan yang oleh elit politik disebut koalisi, antara beberapa pihak yang pada awalnya tidak terlibat langsung dalam kancah peperangan dengan kubu-kubu yang terlibat langsung, terbentuk berdasarkan adanya tawar-menawar politik yang menguntungkan kedua belah pihak. Tawar-menawar yang sarat dengan kepentingan-kepentingan segelintir orang; Elit Politik, yang haus dan rakus akan kekuasaan, kekayaan dan kemasyuran. Terbukti, adanya kesepakatan berkoalisi atau tidaknya satu pihak dengan salah satu kubu ditentukan dengan berapa banyak jatah kursi kabinet yang akan didapat, bukan berdasarkan profesionalisme dan kepentingan bangsa. Semakin banyak jatah kursi yang didapat semakin solid koalisi yang dibentuk sebaliknya jika jatah kursi yang diperoleh lebih sedikit koalisi hanya akan menjadi sebuah bualan belaka.

Kepentingan-kepentingan dari setiap kubu tentu saja tidak akan muncul di wajah para jenderal dan antek-anteknya. Topeng-topeng berbentuk penegakan hukum, pemberatasan KKN, Good Government, mensejahterakan rakyat, pembukaan lapangan kerja baru, pemberantasan teroris, anti militerisme, mengentaskan keterpurukan bangsa dan berjuta topeng indah nan menawan dipakai untuk menutupi wajah yang buruk dan busuk, sehingga yang nampak adalah wajah nan molek dan anggun mempesona bagi siapa saja yang melihatnya.

Berbagai cara dan upaya ditempuh oleh masing-masing jenderal untuk merebut simpati masyarakat. Ada jenderal yang meluangkan waktunya untuk sekedar datang dan berkunjung ke pasar-pasar tradisional, bahkan melakukan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah dilakukan, dari ikut perlombaan balap karung dalam rangka peringatan kemerdekaan RI ke 59 hingga hadir dalam sebuah acara peringatan hari jadi salah satu instansi pemerintah, kendati pada tahun-tahun sebelumnya tidak pernah memiliki waktu untuk hadir meskipun telah diundang secara resmi. Yang lebih lucu sang Jenderal yang tadinya malu-malu untuk bicara dan cenderung tertutup rapat mulutnya serta menjauh dari kalangan pers, sekarang sangat cerewet dan gemar sekali di kerumunin para kuli tinta hanya sekedar untuk menceritakan kebaikan yang dia perbuat bahkan tak segan-segan menggelar konferensi pers di Istana atau di rumahnya yang megah. Sementara Jenderal yang lainnya dengan dalih hobi dan bakat menyempatkan diri menyaksikan dan turut menyumbangkan suaranya yang katanya “merdu” dan bahkan sempat di kritik oleh Mrs peach control dalam acara pencarian idola baru di bidang musik.

Kembali kepada permasalahan Pemimpin bangsa dambaanku. Tentu saja pemimpin bangsa yang aku dambakan bukan jenderal yang menghalalkan segala macam cara untuk menjadikan dirinya sebagai pemimpin bangsa, seperti dijabarkan di atas. Pemimpin bangsa dambaanku bukanlah pemimpin bangsa yang senantiasa mengorbankan kepentingan rakyat atau orang lain demi kepentingan pribadi, keluarga maupun kerabatnya. Pemimpin bangsa dengan konsep-konsep kenegaraan dan penyelamatan bangsa yang jelas dan nyata serta mampu memberikan jaminan akan adanya perbaikan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara serta mampu mengeluarkan bangsa ini dari keterpurukan multidimensi dan mampu membuat bangsa Indonesia menjadi bangsa yang besar dan dihargai oleh bangsa lain, kuat dalam segala bidang khususnya ekonomi serta keamanan, merupakan pemimpin bangsa yang saat ini aku damba-dambakan. Selain itu seorang pemimpin bangsa dambaanku adalah yang memiliki moral dan akal yang sehat sehingga bisa melahirkan keputusan tanpa tendensi apapun. Mampu memperjuangkan hak-hak rakyat kecil dan menyadari bahwa tahta kekuasaan yang didudukinya saat ini adalah semata-mata adalah karena adanya kehendak rakyat sehingga dia harus mengedepankan semua kepentingan rakyat. Kriteria utama dari seorang Pemimpin bangsa dambaanku saat ini adalah pemimpin yang bisa jujur pada diri sendiri, tidak berlindung pada kebijakan-kebijakan semu. Mampu mengayomi rakyat, sangat mengerti dan paham akan hukum serta menjadikan hukum sebagai panglima dalam menjalankan roda pemerintahan sehingga terwujud tatanan masyarakat yang disiplin dan memiliki kesadaran hukum tinggi, bukan menjadikan hukum sebagai bahan mainan yang dapat diplintar-plintir demi kepentingan pribadinya.

Terlepas dari seperti apa pemimpin bangsa dambaan kita masing-masing, saat ini bangsa Indonesia yang tengah berada dalam jurang krisis multidimensional yang teramat dalam, membutuhkan seorang pemimpin yang jujur, bertangan besi, demokratis dan bijaksana dalam mengambil setiap tindakan dan memutuskan sebuah kebijakan.

Menjawab pertanyaan di atas, aku harus jujur menjawab bahwa kedua jenderal yang akan menjadi pemimpin bangsa ini ke depan, berdasarkan track record masing-masing belum sedikitpun memenuhi kriteria dari Pemimpin bangsa dambaanku. Sangat berat rasanya bagiku jika diharuskan memilih salah satu dari mereka pada puncak peperangan 20 September mendatang, meski demikian ada juga sedikit perasaan lega di hati, karena bangsa ini menganut sistem demokrasi meskipun belum sepenuhnya diterapkan akan tetapi setiap warga negara Indonesia memiliki kebebasan dan berhak menentukan pilihannya, sesuai dengan hati nurani masing-masing, sehingga akhirnya aku dapat menggunakan hak pilihku untuk tidak memilih kedua jenderal itu. ***** Nang

Tidak ada komentar: